1. data (misalnya, 64 bit) sekaligus sebagai

1.  Latar
Belakang

 

Sistem pada keamanan data dan kerahasiaan
data merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kemajuan teknologi
informasi namun yang cukup disayangkan adalah ketidakseimbangan antara setiap
perkembangan suatu teknologi yang tidak diiringi dengan perkembangan pada
sistem keamanannya itu sendiri, dengan demikian cukup banyak sistem-sistem yang
masih lemah dan harus ditingkatkan keamanannya. Oleh karena itu pengamanan data
yang sifatnya rahasia haruslah benar-benar diperhatikan.. Teknologi jaringan
komputer telah dapat mengurangi bahkan membuang kemungkinan adanya kerusakan
data akibat buruknya konektivitas fisik, namun gangguan tetap bisa terjadi
karena ada unsur kesengajaan yang mengarah ke penyalahgunaan sistem dari
pihak-pihak tertentu.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari
teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi
seperti kerahasiaan, integritas data, serta otentikasi. Ilmu sandi
(kriftografi) sendiri telah ada sejak lama. Tercatat dalam sejarah bahwa Julius
Caesar (kaisar romawi) menggunakan penyandian untuk menyampaikan pesan rahasia
saat perang.

Enkripsi ialah proses mengamankan suatu
informasi dengan membuat informasi tersebut tidak dapat dibaca tanpa bantuan
pengetahuan dan atau alat khusus. Sedangkan dekripsi merupakan algoritma atau
cara yang dapat digunakan untuk membaca informasi yang telah dienkripsi untuk
kembali dapat dibaca.

 

 Tujuan dari makalah ini adalah untuk lebih
mengetahui perbandingan dari enkripsi dan dekripsi dari Data Encryption
Standard dan Advanced Encryption Standard .

2.  Kajian Pustaka

 

2.1.     
Penelitian Terdahulu

 

Diambil dari beberapa
jurnal yaitu Jurnal Surian, Didi
. (2006). ALGORITMA KRIPTOGRAFI AES RIJNDAEL yang membahas tentang bagaimana kriptografi
AES bekerja,kemudian dari jurnal Herryawan,I
Putu. (2013). ANALISA DAN PENERAPAN ALGORITMA DES UNTUK PENGAMANAN
DATA GAMBAR DAN VIDEO adalah jurnal
yang membahas tentang bagaimana kriptografi dari DES dapat bekerja untuk
diterapkan pada keamanan data gambar dan video.

 

2.2.     
Kriptografi dengan Blok Cipher

Dalam Kriptografi, blok cipher adalah penyadian kunci simetris. Blok cipher adalah
metode enkripsi data (untuk menghasilkan teks cipher) dimana kunci kriptografi
dan algoritma yang diterapkan pada blok data (misalnya, 64 bit) sekaligus
sebagai blok dari satu bit pada suatu waktu.

Ketika proses enkripsi, blok cipher mengambil (misalnya) 128-bit blok plaintext
sebagai masukan, dan output yang sesuai 128-bit blok cipher teks. Transformasi
dengan tepat dikendalikan menggunakan input kedua – kunci rahasia. Proses
Dekripsi mirip yaitu : algoritma dekripsi mengambil, dalam contoh ini, blok
128-bit teks cipher bersama dengan kunci rahasia, dan menghasilkan 128-bit blok
plaintext asli. Blok Cipher dapat dibandingkan dengan stream cipher; stream
cipher beroperasi pada satu digit pada suatu waktu dan transformasi bervariasi
selama proses enkripsi.

Sebuah desain blok cipher yang sangat berpengaruh dalam kemajuan kriptografi
modern Data Encryption Standard (DES, sebuah metode untuk mengenkripsi
informasi). The National Institute of Standards and Technology (NIST) adalah
badan federal yang menyetujui Data Encryption Standard (DES) Algoritma Block
cipher pertama diciptakan pada pertengahan 1970-an. Awalnya kontroversi muncul
dari desain elemen rahasia, panjang kunci yang relatif singkat dari desain blok
cipher kunci simetris, dan keterlibatan NSA, timbul kecurigaan tentang
backdoor. DES sekarang dianggap tidak aman pada banyak aplikasi. Hal ini
terutama karena ukuran kunci 56-bit yang terlalu kecil; pada bulan Januari
1999, distributed.net dan Electronic Frontier Foundation bekerjasama untuk publik
memecahkan kunci DES dalam 22 jam dan 15 menit. Ada juga beberapa hasil
analisis yang menunjukkan kelemahan teoritis dalam cipher, meskipun mereka
tidak layak untuk membuka dalam praktek. Algoritma secara praktis diyakini
tetap aman dalam bentuk Triple DES, meskipun terdapat serangan secara teoritis.
Dalam beberapa tahun terakhir, penyandian telah digantikan oleh Advanced
Encryption Standard (AES).

A. Data
Encryption Standard (DES)

DES adalah
blok cipher, dengan ukuran blok 64-bit dan kunci 56 bit. DES terdiri dari seri
16-putaran substitusi dan permutasi. Dalam setiap putaran, data dan bit kunci
bergeser, di permutasikan, XOR, dan dikirim melalui, 8 s-Box, satu set tabel
lookup yang penting bagi algoritma DES. Proses dekripsi pada dasarnya sama,
dilakukan secara terbalik 3.

 

B. Advanced
Encryption Standard (AES)

AES
menggunakan 10, 12, atau 14 Rounds (putaran). Ukuran kunci yaitu128,192 atau
256 bit tergantung pada jumlah putaran. AES menggunakan beberapa putaran dimana
setiap putaran terdiri atas beberapa tahap. Untuk memberikan keamanan AES
menggunakan beberapa jenis transformasi. Permutasi substitusi, (Mix)
pencampuran dan Penambahan kunci di setiap putaran AES kecuali yang terakhir
menggunakan empat transformasi.

 

2.3.     
Teori DES

 

Metode DES

 

DES termasuk ke dalam sistem kriptografi simetri
dan tergolong jenis cipher blok. DES dirancang untuk melakukan enchiper
dan dechiper data yang berisi 56 bit dibawah kendali 56 bit kunci
internal atau upakunci. Dalam melakukan dechiper harus dilakukan dengan
menggunakan kunci yang sama dengan saat proses enchiper tetapi sat
melakukan dechiper pemberian halaman berubah sehingga proses dechiper
merupakan kebalikan dari proses enchiper. Sejumlah data yang akan di
enchiper disebut sebagai permutasi awal atau initial permutation
(IP). Komputasi key – dependent didefinisikan sebagai fungsi f
sebgai fungsi chipper dan function KS sebagai key
schedule. Deskripsi dari komputasi diberikan pertama, bersama dengan detail
bagaimana algoritma digunakan dalam proses enchiper. Selanjutnya,
penggunaan algoritma untuk proses dechiper dideskripsikan. Pada
akhirnya, sebuah definisi chipper fungsi f diberikan dalam
bentuk fungsi primitive yang disebut fungsi seleksi Si dan fungsi
permutasi P.

 

Skema Global DES

 

Pada awalnya, blok plainteks dipermutasi dengan
matriks permutasi awal (initial permutation atau IP). Hasil dari
permutasi awal tersebutkemudian di enchiper sebanyak 16 kali atau 16
putaran. Setiap putarannya menggunakan kunci internal yang berbeda. Hasil dari
proses enchiper kembali dipermutasi dengan matrikspermutasi balikan (invers
initial permutation atau IP-1 ) menjadi blok cipherteks.

Gambar 1. Skema global DES

 

Dalam proses enchiper, blok plainteks
terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian kiri (L) dan bagian kanan (R), yang
masing masing memiliki panjang 32 bit. Pada setiap putaran i, blok R
merupakan masukan untuk fungsi transformasi fungsi f. Pada fungsi
f, blok R dikombinasikan dengan kunci internal Ki. Keluaran
dari fungsi ini di XOR kan dengan blok L yang langsung diambil dari blok R
sebelumnya. Ini merupakan 1 putaran DES. Secara matematis, satu putaran DES
dinyatakan sebagai berikut :

 

Li = Ri – 1

Ri = Li – 1 + f(Ri – 1, Ki)

 

Gambar 2 memperlihatkan skema algoritma
DES yang lebih rinci dan jelas.

Gambar
2. Algoritma enkripsi dengan DES

 

 

Catatlah bahwa satu putaran DES merupakan model
jaringan Feistel (lihat Gambar 3).

 

Gambar 3. Jaringan
Feistel untuk satu putaran DES

 

Perlu dicatat dari Gambar 2 bahwa jika (L16,
R16) merupakan keluaran dari putaran ke-16, maka (R16, L16)
merupakan pra-cipherteks (pre-ciphertext) dari enciphering ini.
Cipherteks yang sebenarnya diperoleh dengan melakukan permutasi awal balikan,
IP-1, terhadap blok pra-cipherteks.

 

2.4.     
Teori AES

 

Metode Algoritma AES

 

Algoritma kriptografi bernama Rijndael yang
didesain oleh oleh Vincent Rijmen dan John Daemen asal Belgia
keluar sebagai pemenang kontes algoritma kriptografi pengganti DES yang
diadakan oleh NIST (National Institutes of Standards and Technology)
milik pemerintah Amerika Serikat pada 26 November 2001. Algoritma Rijndael inilah
yang kemudian dikenal dengan Advanced Encryption Standard (AES). Setelah
mengalami beberapa proses standardisasi oleh NIST, Rijndael kemudian
diadopsi menjadi standard algoritma kriptografi secara resmi pada 22 Mei 2002.
Pada 2006, AES merupakan salah satu algoritma terpopuler yang digunakan dalam
kriptografi kunci simetrik.

AES ini merupakan algoritma block cipher dengan
menggunakan sistem permutasi dan substitusi (P-Box dan S-Box) bukan dengan
jaringan Feistel sebagaiman block cipher pada umumnya. Jenis AES terbagi
3, yaitu :

 

1.AES-128

2.AES-192

3.AES-256

 

Pengelompokkan jenis AES ini adalah berdasarkan
panjang kunci yang digunakan. Angka-angka di belakang kata AES menggambarkan
panjang kunci yang digunakan pada tipa-tiap AES. Selain itu, hal yang
membedakan dari masing-masing AES ini adalah banyaknya round yang dipakai.
AES-128 menggunakan 10 round, AES-192 sebanyak 12 round, dan AES-256 sebanyak
14 round.

AES memiliki ukuran block yang tetap
sepanjang 128 bit dan ukuran kunci sepanjang 128, 192, atau 256 bit. Tidak
seperti Rijndael yang block dan kuncinya dapat berukuran kelipatan 32 bit
dengan ukuran minimum 128 bit dan maksimum 256 bit. Berdasarkan ukuran block
yang tetap, AES bekerja pada matriks berukuran 4×4 di mana tiap-tiap sel
matriks terdiri atas 1 byte (8 bit). Sedangkan Rijndael sendiri dapat
mempunyai ukuran matriks yang lebih dari itu dengan menambahkan kolom sebanyak
yang diperlukan. Blok chiper tersebut dalam pembahasan ini akan diasumsikan
sebagai sebuah kotak. Setiap plainteks akan dikonversikan terlebih dahulu ke
dalam blok-blok tersebut dalam bentuk heksadesimal. Barulah kemudian blok itu
akan diproses dengan metode yang akan dijelaskan. Secara umum metode yang
digunakan dalam pemrosesan enkripsi dalam algoritma ini dapat dilihat melalui
Gambar 4.

Gambar
4. Diagram AES

 

3.  Metode Penelitian

 

Pada
metode penelitian saya akan menjelaskan bagaimana langkah – langkah dalam
membandingkan hasil dari enkripsi dari DES dan AES.

Disini
saya memasukkan input plaintext dan key(acak) dengan :

PLAINTEKS
:

F

I

L

I

A

N

E

N

G

G

A

R

K

R

I

S

KEY
:

DES
=  13 34 57 79 9B BC DF F1

AES
=  13 34 57 79 9B BC DF F1 13 34 57 79 9B
BC DF F1

Kemudian ubahlah
plainteks tersebut ke bentuk hexa untuk DES dan desimal untuk AES. Disini saya
menggunakan excel untuk membantu operasi pengubahan.

DES :                                                                                      AES
:

                  

Kemudian saya
menggunakan alat untuk mencari chippertext dari plaintext input kedua metode
ini.

Gambar 1 adalah
gambar dari perhitungan enkripsi dari DES pertama dengan inputan yaitu FILIANEN

Gambar 1.

Kemudian huruf
selanjutnya yaitu GGARKRIS di gambar 2.

Gambar 2.

Disini
saya bisa temukan chippertext dari DES yaitu :

DES_HEXA

9C

46

D6

0F

13

E6

11

67

21

A1

63

F5

E1

F7

64

20

 

Kemudian
kita cari juga chippertext dari AES.

Gambar
3 adalah gambar hasil dari pengubahan plaintext FILIANENGGARKRIS ke
chippertext.

Gambar 3.

Setelah itu saya
buat juga chippertextnya di excel seperti berikut ini.

AES_HEXA

12

30

27

1E

E5

C6

14

2D

6

A3

20

F4

44

6E

A9

D9

 

Setelah kita
menemukan semua chippertextnya, bentuklah kembali chippertext kedua metode
tersebut menjadi desimal kembali seperti berikut ini.

DES_HEXA

DES_DECIMAL

AES_HEXA

AES_DECIMAL

9C

156

12

18

46

70

30

48

D6

214

27

39

0F

15

1E

30

13

19

E5

229

E6

230

C6

198

11

17

14

20

67

103

2D

45

21

33

6

6

A1

161

A3

163

63

99

20

32

F5

245

F4

244

E1

225

44

68

F7

247

6E

110

64

100

A9

169

20

32

D9

217

 

Kemudian, dari
semua data yang saya dapat,semua data tersebut saya gabungkan menjadi satu
sehingga saya bisa membuat korelasi dari DES dan AES yang kita pakai tersebut.

 

4.  Hasil dan Pembahasan

 

Dari
metode penelitian atau kita sebut langkah – langkah yang sudah saya lakukan,
kita bisa temukan hasil untuk membandingkan Enkripsi – Dekripsi dari AES dan
DES, yaitu menggunakan korelasi kedua metode tersebut.

DES
:                                                                           AES
:

                            

 

Dengan
Korelasi :

KORELASI DES

0,494329556

0,494329556

KORELASI AES

0,36322746

0,36322746

 

Dari
sini kita bisa melihat korelasi yang paling mendekati 0 (nol) mempunyai keamanan
data yang lebih baik sehingga bisa disimpulkan bahwa kriptografi menggunakan
metode AES lebih baik daripada menggunakan metode DES.

 

5.  Kesimpulan

 

Kita sudah ketahui bahwa terdapat beberapa
perbedaan dari DES dan AES yang bisa kita bandingkan seperti panjang
kunci, jenis ciphertext, ukuran blok, dikembangkannya, ketahanan atas
kriptanalisis, keamanan, kemungkinan kunci , kemungkinan ACSII kunci karakter
yang dapat ditampilkan, waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa semua kemungkinan
kunci.

 Factors   

 DES

 AES

 Key Length

 56 bits

 128, 192 or 256 bits

 Block Size

 64 bits  

128, 192, or 256 bits

 Cipher Text

 Symmetric block cipher

 Symmetric block cipher

 Developed

 1977

 2000

 Security

 Proven inadequate

 Considered secure

 Cryptanalysis Resisteance

 Vulnerable to differential and linear
cryptanalysis; weak substitution tables

 Strong against differential, truncated
differential, linear, interpolation and square attacks

 Possible keys

 256

 2128,2192 and 2256

 Possible ASCII printable character key

 957

 9516, 9524 or 9532

 

Dan dari penelitian
yang sudah saya lakukan, kita bisa temukan perbedaan korelasi antara AES dan
DES yang menunjukkan perbandingan diantara keamanan dua metode tersebut, dan
dapat disimpulkan bahwa keamanan enkripsi dan dekripsi dari AES lebih terjamin
dibandingkan dengan keamanan dari DES.

 

ACUAN

 

https://saadus.files.wordpress.com/2011/11/des-dan-aes.pdf

https://sites.google.com/site/riksongultom/analisis-perbandingan-antara-algoritma-kriptografi-aes-dan-des

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/jte/article/viewFile/17452/17369

http://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Kriptografi/Advanced%20Encryption%20Standard%20(AES).pdf