Dari ulama di atas merujuk pada hadits

Dari ketiga fatwa yang telah
disampaikan oleh ulama di atas merujuk pada hadits Ubadah bin Shamit r.a.,

       Islam telah mengajarkan bahwa
urusan yang berkaitan erat dengan kemaslahatan umum (politik dan sosial)
serahkanlah kepada para ulama, karena merekalah yang memiliki ilmu agama paling
dalam. Sebaliknya dengan orang yang kurang pengetahuannya, sebaiknya tidak ikut
berbicara dan berkomentar lebih jauh yang dikhawatirkan hanya akan menimbulkan
kerusakan dan perpecahan dalam masyarakat. Seperti yang telah diperingatkan
oleh Nabi s.a.w dalam sabdanya:

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Adapun sabda Nabi s.a.w lainnya,

       Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya
dan sepantasnya kita mengetahui sifat serta sikap seorang pemimpin seperti yang
dikatakan oleh Sulaim bin Jarir bahwa seluruh masyarakat harus mengetahui
kepala negara, dengan sosok pribadinya dan namanya, sebagaimana mereka harus
mengetahui Allah SWT dan Rasul-Nya.1

       Sedangkan menurut jumhur ulama,
mengetahui kepala negara adalah wajib bagi manusia secara umum, tanpa
rinciannya. Setiap individu tidak harus mengetahui sosok dan nama kepala negara
kecuali pada kejadian-kejadian tertentu yang membutuhkan pengenalan secara
pasti. Jika setiap orang harus mengetahui sosok kepala negara, dengan
kepribadian dan namanya, setiap orang harus berpindah ke daerah tempat kepala
negara berdomisili dan tidak ada orang yang boleh tinggal di tempat yang jauh.2

       Adapun
yang disebut sebagai khalifah (pengganti, wakil) karena ia bertugas
menggantikan dan mewakilkan peran Rasulullah saw. dalam memimpin umat beliau. 3
Dikatakan pula “khalifah Allah” karena ia bertugas menjalankan hak-hak Allah
atas hamba-hamba-Nya. 4Sebaimana
firman Allah SWT dalam Q.s Al-An’am: 165,

 

Membicarakan fenomena krisis akhir
zaman agaknya menjadi perbincangan yang cukup menarik. Berikut ini terdapat
hadits yang relevan dengan keadaan akhir zaman ini yang diriwayatkan oleh
Al-Hakim dalam bukunya yang berjudul “al-Mustadrak” serta Ibnu Majah
dalam kitab “Sunan”,

 

Pentingnya
Memilih Pemimpin Dilihat dari Segi Perspektif Agamanya

      

Agama merupakan salah satu hal yang paling vital dalah
kehidupan kita. Sebuah tonggak bagi bangsa. Didalamnya terdapat keluhuran akan
nilai-nilai yang haq dan yang bathil. Sebagai pedoman hidup bagi
setiap umatnya akan kegelapan dunia ini. Maka dari itu, agama juga amatlah
penting dalam penentuan kepemimpinan. Untuk membuktikannya, mari kita lihat
beberapa dalil yang menyinggung mengenai hal ini.

 

 

       Kemudian,
apabila masih meuncul pertanyaan yang mempertanyakan keharusan memilih pemimpin
atas agamanya, kita dapat menjawabnya dengan melihat dua hal. Yang pertama,
lihatlah dari segi demokrasi.

1 Imam Al-Mawardi, Hukum Tata
Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam, Jakarta: Gema Insani Press,
2000, 35.

2 Ibid.,
35-36.

3 Ibid.

4 Ibid.